Daftar Blog Saya

Label

Minggu, 19 September 2010

pai pui chapt 3

‘Akankah aku bisa menikmati sepotong kue pai blueberry kesukaanku di samping Erlan senpai yang dengan setia menemani saat-saat hembusan terakhirku?’
Pai Pui chapt. 3
-‘menjalani detik terakhir ’-
Aku benci bila harus mengakui keadaanku yang sekarat ini. Tak habis pikir bila orang yang dianggap cewek bertenaga super yang fansnya segudang ini bisa terpuruk. (tunggu dulu. Apa hubungannya fans ama anggapan itu ya? Ah, udahlah. Puyeng mikirin jawabannya.)
Dia adalah dirinya yang membuat ia menjadi segalanya di hatiku yang begitu mencintai dia seolah ia adalah segalanya tanpa perlu tau apa dia merasakan hal yang sama atau tidak. Bayangan yang ditinggalkannya membuat dia selalu ada di jiwa yang memiliki rasa cinta begitu dalam ini.
Apa yang menarik? Mengapa terjadi? Kapan awalnya? Darimana asalnya? Bagaimana bisa? Siapalagi kalau bukan Erlan senpai. Dia membuatku begitu parah. Pikiranku selalu dipenuhi oleh segala hal tentangnya.
Suatu siang, jam istirahat sekolah, aku mengkhayal.
“Pui mau senpai beliin apa buat hadiah ulang taun Pui ntar?”
“Aku mau kue pai blueberry besar yang disiram saus strawberry.”
“Sip lah. Ntar senpai beliin.”
“Benar nih? Serius kan?”
“Iya.”
Terus saja kenangan hadiah terindah 3 bulan yang lalu itu terngiang di benakku. Kue pai blueberry mini yang tertulis ‘happy birthday’ di atasnya dengan saus strawberry keinginanku diletakkan oleh Erlan senpai di atas mejaku. Ternyata tak hanya kue pai, senpai juga memberiku sebuah novel langka yang kucari di setiap toko buku tanpa membawa hasil yang berarti. Kini novel itu kudapatkan.
“Nah, lo! Ngelamun jorok, ya? Ngiler banget tampangnya,” Funarth datang tiba-tiba dan langsung mengacak rambut indahku yang memang tak pernah rapi (?).
“Ih ! Apaan sih!” kutepis tangan tak berperikerambutan itu.
“Ah, aku tau. Pai blueberry yang waktu itu lagi?”
“Tuh tau. Pai yang waktu itu adalah pai terenak yang pernah kumakan,” mantap dan tegas jawabanku seolah menantangya.
“Painya atau yang ngasih kamu pai itu…?? Hayo…”
“Udah, deh. Namanya juga orang jatuh cinta. Sewot aja kamu nih. Kenapa? Cemburu?” pancingan yang buruk.
“Huahaha…..Gak mungkin aku bisa suka sama cewek yang tingkah lakunya gak karuan kayak kamu. Cantik sih iya. Tapi sama aja ntar rasanya pacaran sama monyet. Huahahaha….” Tuh, kan. Bener apa kataku. Itu merupakan pancingan kata-kata yang buruk.
Itulah Funarth. Teman sebangkuku yang menyebalkan tapi seringkali menjadi korban kejahatan ‘cicak’ yang kulemparkan padanya hanya untuk sekadar iseng. Seorang makhluk yang menyedihkan dan bernasib tragis karena harus duduk sebangku dengan aku yang jahilnya selagit ini.
Banyak hal yang mengusik pikiranku akhir-akhir ini. Salah satunya tentang Erlan senpai, tentunya. Kalian tau itu. Aku penasaran dengan segala hal tentang dia. Baik dari sikapnya padaku hingga rumor yang beredar tentangnya. Aku gak paham mengapa ia memberiku secercah harapan lalu menghapusnya lagi. Terus saja semua itu terulang.
Hidup ini penuh akan misteri yang tak dapat kita pecahkan sebelum menjalaninya hingga akhir. Tak ubahnya dengan apa yang kualami sekarang. Kisah ini seakan tak pernah usai, dan tak akan pernah usai selama aku masih jadi pengecut yang terus menyembunyikan perasaanku dari Erlan senpai. Entah kapan aku akan berani mengutarakan atau sekadar sedikit memberi sinyal cinta padanya.
“Kenapa kamu gak jujur aja sama Erlan ? Hobinya pasang tampang sok cool lagi di depan dia. Mana dia tau kamu suka atau gimana sama dia…
“Ara…Aku masih gak berani. Dekat dia aja aku gemetaran..” kutundukkan kepalaku.
“Ayolah….Kamu pasti bisa.”
“Suatu saat nanti dia bakal aku kasi tau. Hanya butuh sedikit keberanian dan waktu yang tepat aja,” sok puitis.
“Berat bahasanya. Tapi kapan? Bentar lagi kan mereka ujian. Trus, pergi dari skul ini. Dia kan tajir, pasti kuliahnya gak di daerah sini. Mungkin aja ke luar negeri,” terlalu sedih untuk mengakui kenyataan yang satu ini.
Aku merenungkan semua perkataan Arai. Tak ubahnya dengan Sheena, teman sebangku Arai yang juga menyukai senior. Kami berdua sama aja. Gak berani bilang apa-apa sama orangnya. Suatu saat, sebelum semuanya terlambat, aku dan Sheena harus berhasil mengutarakan rasa yang telah lama kami pendam.
Ini tentang Aries Talagant, senior yang begitu dipuja puji oleh Sheena. Belakangan diketahui senior bergelar ‘autis’ yang satu ini lagi pedekate sama cewek skul lain. Sheena broken heart banget. Tapi usut punya usut, ternyata itu cuma rumor yang beredar dari lidah-lidah tak bertulang para penggemar Aries. Bedanya dengan Sheena, mereka hanya ngefans ama anak ‘autis’ yang terkenal namun masih kalah pamor denganku itu. Kalau Sheena sih, udah cinta mati ama Aries.
Bahagianya, Sheena berani sms-an ama Aries. Aku dan Erlan senpai? Jangan ditanya. Aku gak berani ngirim pertanyaan ‘apa kabar’ seperti yang setiap hari dilakuin oleh Sheena ke handphone rongsokan korban kejahatan Aries. Handphone yang selalu dijatuhkannya hingga hampir tak jelas lagi apakah benda itu benar-benar HP atau bukan.
Di rumah Uci, malam pergantian tahun..
“Tupai, romantis banget ya seandainya aku bisa nyaksiin pertunjukan kembang api ini sama ‘dia’….” kulihat Riyu senpai hampir tewas menertawakan kata-kataku.
“Huahahaha…. Kebanyakan nonton sinetron kamu nih. Apa gak romantis kalo liatnya bareng aku en temen-temenmu ini? Ih, nyet-nyet ja’at….” Ingin kulempar ke laut rasanya manusia yang satu ini.
“Apaan sih?!” dengusan kesal pun tak terelakkan.
“Ngomong-ngomong, apa kamu gak dicariin sama petugas Ragunan?”
Mendelik, kaget,”Hah?! Memangnya kenapa?”
“Ck…ck… Kamu ini ya, udah kabur tengah malam dari kandang, masih aja pasang tampang non criminal.”
“TUPAI !!!!” aku bangkit berdiri agar sepatu di kakiku bisa mendarat lebih keras di tubuhnya.
“Gak kena. Weeekk….” Selalu saja membuatku kesal.
Pengejaran yang melibatkan oknum-oknum bersangkutan pun dimulai. Tak ayal lagi cucuran air asin dari tubuh mengalir. Dan pelarian teroris kata-kata berakhir dengan tertangkapnya Riyu senpai yang kemudian diangkut beramai-ramai menuju bak air raksasa tertanam dalam tanah yang ada di rumah Uci.
“Hahahahaha…….” Gelak tawa membahana melihat Riyu senpai yang basah kuyup.
Riyu senpai menarik teman-teman lainnya ke dalam air. Alhasil, splash!! Udah 12 orang yang jadi korban keganasan suhu air di kolam.
Kurasakan tangan basah menyentuh kakiku. Tangan itu adalah tangan Rexia. Tapi, tunggu! Dia mau ap…
“Egh..,tolong ! Aku gak…gak bisa..hlegh..berenang….!!” dalam sekejap aku telah berpindah dari tanah kering yang nyaman menuju kumpulan air ganas yang serasa ingin melahapku begitu saja.
Aku sempat melihat senyum penuh makna di wajah Rexia yang perlahan naik ke permukaan dalam pandanganku yang mulai tampak memudar. Panas hati rasanya melihat senyum itu. Dan aku akhirnya melihat kegelapan yang menakutkan di sekelilingku.
“Hegh…” aku mencoba untuk membuka jendela mataku yang terasa berat.
“Pui, kamu udah sadar??” ucapan panic banyak orang terdengar dan kutanggapi dengan anggukan kecil.
“Pui….” Uci tampak paling cemas di antara yang lain.
“Siapa yang tadi buat kamu jatuh ke kolam?! Kamu bisa mati tenggelam tadi. Kamu tuh kan gak bisa berenang,” lanjutnya.
“Aku gak tau, Cie chan…” bohong! Sebenarnya aku tau kalau tadi itu Rex yang menarikku. Tak apalah. Yang penting pertemanan kami gak selesai hanya karena masalah sepele ini.
“Sepele katamu? Kenapa gak diceritain aja kemarin pas di rumah Uci?” Funarth mendengarkan semua kisahku yang berlangsung tragis kemarin dan hampir saja nyawaku terenggut karenanya.
“Aku gak mau merusak hubungan kami. Gak boleh ada pertengkaran hanya dengan masalah seperti ini,” karena aku ingin berbuat baik sebelum…..
“Tapi kan gak bisa gitu, Pui. Dia harus bertanggung jawab atas segalanya!” Funarth terdengar semakin emosi.
“Udahlah. Gak usah dibahas. Aku anggap masalah ini selesai.”
Bodoh! Apanya yang selesai? Semakin hari semakin banyak kabar tak sedap tentangku yang menjadi perbincangan para biang gossip. Dan pastinya, yang menjadi narasumber penipu itu adalah Rexia. Ya, siapa lagi selain dia. Tanpa diberi tau pun aku sadar semua itu lambat laun akan dilakukannya. Memang udah jadi kebiasaan dia memfitnah orang-orang yang tak disukainya.
Bukan hanya gossip murahan itu yang menjadi masalahnya. Mungkin kalo hanya sekedar gossip, aku masih bisa tenang. Tapi inti konfliknya adalah jantung dan paru-paruku yang jadi kian memburuk kondisinya setelah perkara menyelam paksa di kolam renang Uci. Aku gak tau sampai kapan aku bisa bertahan.
Detik demi detik kuhitung. Oh Tuhan, aku mencintainya. Berikanlah waktu lagi padaku. Kuharap aku tetap bertahan. Hanya Erlan senpai yang kupikirkan. Bukan hanya itu, aku juga berharap tak seorang pun menangis karenaku. Aku ingin semuanya tetap tersenyum.
Kutatap kue pai yang dibeliin sama mama kemarin. Lekukan indah yang di atasnya dilumuri penuh oleh krim strawberry berhiaskan potongan-potongan asli buah blueberry. Tatapan kosong. Kehampaan yang kini ada pada diriku. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan untuk membuat Erlan menyadari rasa ini sebelum aku meninggalkannya jauh dan tak kembali lagi.
‘Masihkah ada waktu bagiku untuk memberanikan diri memberinya sepotong pai blueberry buatan tanganku sendiri?’
~ to be continued ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar