Daftar Blog Saya

Label

Minggu, 19 September 2010

pai pui chapt 2

Pai Pui chapt. 2
-‘terima Kenyataan hidup’-
Menurut kalian apakah rasa suka itu berasal dari kemampuan materil seseorang? Tidak, bila aku yang harus menjawabnya. Aku menyukai Erlan senpai tanpa syarat dan alasan tertentu. Hanya karena dia adalah dirinya. Dia tak tergantikan bagiku. Tapi kenapa menurut pandangan Rex aku menilainya dari segi materi? Bukankah semua harta itu bukan miliknya, tapi orang tuanya? Bahkan semua yang kita miliki di dunia ini adalah murni milik Tuhan. Benar, kan?
“Hai, Rex. Gimana kamu sama Erlan senpai?” aku berusaha tetap seperti biasanya.
“Gitu-gitu aja. Nothing special has happened.”
“Owh..” aku menanggapi dengan singkat jawabannya.
“Kamu jadi ikut camp, kan? Udah aku bayarin tuh. Jangan sampai gak ikut.”
“Pui baik banget. Yep. Aku pasti ikut. Kan ntar anak kelas XII juga ada,” nada bicara Rex seolah mencari perhatian yang tak berhasil ia dapatkan saat itu.
“Erlan senpai?”
“So pasti. Siapa lagi?” aku agak bergidik mendengar jawaban Rex.
Persiapan camp selesai. Camp yang selalu diadakan bagi pelajar Yayasan Frutcy yang tergabung dalam komunitas sains selalu menghebohkan sekembalinya dari camp. Bila tak ada pasangan baru, ada ledakan besar di samping tempat camp pastinya. Haha.. Kalian pasti udah menduga pelakunya. Gak salah lagi, pelakunya adalah siswa/I badung nan cemerlang dari kelasku. Dan tentu saja aku termasuk salah satu di antaranya.
Camp yang berlangsung selama seminggu berakhir dengan bentolan merah nan indah di tubuhku. Seluruh persediaan asupan giziku ludes. Yang membahagiakan, aku masih sempat membaginya untuk Erlan senpai sesaat sebelum para monster maniak kejam merampas habis simpanan itu di perjalanan pulang. Senyum Erlan meredam rasa kesalku.
“Menyedihkan banget tampangmu hari ini. Makin item lagi tuh kulit. Haha…” Uci menatap keadaan lusuh nan menyedihkan diriku yang hari ini udah cukup mirip dengan orang-orang yang selalu menegadahkan tangan pada setiap orang yang berhenti di perempatan.
Tanggapan ekspresi datar dengan raut serius dan cukup sangar (bahkan jeleknya lagi bisa dibilang mirinp herder yang sedang mengamuk) membuat Uci berhenti mengataiku.
“Marah, Pui? Kan Uci cuma bercanda. Nih, kue pai favoritmu. Senyum dumz, sista…,” aku tak tega melihat ekspresi penyesalannya. Sebenarnya sih lebih karena pai blueberry yang telah berpindah ke tanganku. Lagian aku hanya ingin menguji sensinya hari ini.
“Haha…kamu pikir aku bisa segitu marahnya apa??”
“Ih, kamu nih ya…” masih saja kebiasaan mencubit pipiku dilakukannya.
“Hahit hauw,,eek!” maksudku ‘sakit tau, jelek !’. Kata-kataku jadi gak jelas saat kedua tumpukan daging di wajahku ditariknya.
“Huahaha…” kami berdua menanggapi kelakuan bodoh yang tak lagi pantas dilakukan oleh anak SMA itu.
Di saat kami tengah bercanda, Erlan senpai tampak berjalan dengan arah yang sepertinya akan melintasi jalur pertemuanku dan Uci. Aku berlagak sok cool saat senpai berjalan melewatiku. Padahal dalam hatiku, semua bunga tengah bermekaran dan kembang api pun semua disulut api.
Kupikir Erlan senpai hanya akan berlalu melewatiku begitu saja. Tapi ternyata tak berapa lama melintasiku, tepat saat aku menoleh ke arahnya…
“Eh.., Hai, Pui…” tampak gemetar dan gugup.
“Hmpft… Puahahaha…” aku dan Uci tak sanggup menahan tawa yang langsung membahana ledakannya.
Aku kembali menoleh ke arah Erlan senpai yang berlalu meninggalkan lorong depan gudang buku. Ia tampak berusaha tetap tenang. ‘Kuharap ia menyukaiku,’ pintaku dalam hati.
Tersenyum penuh arti, aku dan Uci kembali ke kelas. Dan tentunya masih terus menceritakan betapa lucunya cara Erlan senpai menyapaku tadi. Tak habis pikir rasanya dia bisa kayak gitu.
Tepat seperti perkiraanku, Rex memanas saat mendengar aku dan Uci yang terus membicarakan kejadian di lorong depan tumpukan ilmu berbagai sumber tadi. Tapi ia tak dapat mengucap sepatah katapun menanggapi pembicaraan kami.
Dengan sosok beruang mengamuk, Rexia beranjak dari tempat duduknya dan… Brakk!! Rexia langsung mendorong tubuhku yang tentu saja terjembab hebat ke lantai. Dengan gerakan secepat kilat aku bangkit dan langsung membuat lukisan kebiruan di wajah Rex. Kami berkelahi hebat hingga berhasil membuat heboh sekaligus menghancurkan susunan barang-barang tertata di ruang kelas kami.
5 menit kemudian…
“Rex, sadar! Kamu tuh kenapa?” bentakan kasar ini menghentikan kami.
“Iya, Rex! Kamu kan gak perlu segitunya sama aku. Memangnya kamu siapanya senpai?” aku berusaha bicara dengan nada rendah.
“Kalian…ka..kalian..,” menahan rasa sakit, Rex akhirnya menangis, ia berlari ke luar kelas.
Kami tetap seperti biasa dengan Rex yang tetap saja memandangku sinis. Pertikaian di hari itu menghasilkan sedikit memar di lenganku. Rexia lah yang lebih parah. Wajar saja, dalam hal bela diri aku memang jagonya. Jujur saja, aku ini cukup dibanggakan dalam hal perkelahian (jangan ditiru). Bahkan dengan anak lelaki sekalipun aku tetap akan memenangkan pertikaian.
Kami bersyukur karena tak satu gurupun tau masalah itu. Kau tau alasannya. Yap. Benar sekali. Aku mengecam dengan tegas semua saksi mata pada hari itu agar aku tak bermasalah dengan pihak sekolah Frutcy yang tanpa segan mengeluarkan siswanya yang membuat masalah. Tak satupun berani menentangku.
“Pui, gimana kamu sama Erlan senpai?” Uci selalu penasaran dengan kisahku.
“Ya, gitu deh. Gak ada perkembangan apa-apa yang berarti. Biar deh,” aku prihatin pada diriku sendiri yang tak pernah tau kapan kisahku akan berakhir happily ever after.
“Kenapa kamu gak bilang aja sama dia?”
“….” diam adalah pilihan tepat yang kulakukan menanggapi kata-kata Uci.
“Malu? Takut? Gimana kalau seandainya Erlan senpai malah jadian.
Benar juga. Aku gak pernah kepikiran sampai ke sana. Tapi entah kenapa, aku bisa merelakan dia dengan siapapun asalkan aku tetap bisa melihatnya tersenyum padaku. Mengomentari kue pai favoritku, game online, dan berbagai hal tentang negeri sakura yang telah lama menjadi keseharian kami di FS.
Oh, ya. Ada satu hal yang menggangguku. Aku belum sempat menceritakannya. Tentang Riyu, teman Erlan senpai yang selalu memberiku berbagai julukan aneh. Pastinya aku pun memberi julukan padanya agar keadilan di antara kami dapat ditegakkan.
“Hoi, Nyet!” aku mendelik saat mendengar seruan khas dari salah satu makhluk menyebalkan yang pernah kukenal.
“Kenapa, Tupai?” nada kesal mengalun dari pita suaraku.
“Makin serem aja kamu nih. Aku denger kamu berantem, ya? Gak aneh sih. Yang beda tuh berantemnya kali ini sama cewek. Hahaha…..”
Pipi karetku menggembung kesal,”Mau tau aja urusan orang. Cuma mau nanya itu? Udah deh. Mending pergi sono ke kantin. Makan yang banyak kalo gak mau ukuran kepalamu itu mengecil.”
Seniorku yang super duper jenius, berkepala sedikit besar (mungkin karena ukuran otaknya) dan bernama lengkap Shake Wiriyu itu menggerutu sok ngambek padaku. Tak kuhiraukan. Kutinggalkan begitu saja ‘tupai’ jelek itu di tengah taman sekolah.
Ada alasan khusus kenapa Riyu senpai memberi julukan ‘monyet’ pada aku yang membalasnya dengan panggilan ‘tupai’. Singkatnya kudapatkan julukan monyet itu dari kelakuanku yang gak bisa dibilang gak hyperaktif. Dan ia berhasil merebut gelar tupai upah dari hobinya hibernasi hampir setiap jam pelajaran.
Banyak hal yang membuatku dekat pada Riyu senpai. Ia tempat curhat yang sangat kuandalkan. Selalu saja kami membahas hal yang sok serius. Padahal..
“Gimana, Nyet? Harga BBM naik lagi.”
“Hah? Gawat dumz. Bisa-bisa kepalamu yang besar itu harus dijual,” tanggapan yang dipaksa nyambung.
“Apa?! Itu lebih gawat lagi. Ntar gimana nasib fans-fans aku? Susah dumz menatap tampannya ukiran tangan Tuhan ini,” pede banget dah.
“Malah bagus nasib mereka. Kan jadinya gak dibego-begoin lagi sama tupai jelek,” sok datar jawabanku.
“Huahaha…” membuka peluang gajah masuk ke rongga mulut kami.
Setiap orang pasti punya rahasia. Sama halnya denganku yang berhasil menjaganya tetap aman hingga saat ini.
“Ugh..!!” lagi, aku merasakan denyutan yang terasa nyeri pada paru-paruku. Aku gak pernah mengatakannya pada siapapun. Kupikir sakit ini akan segera lenyap begitu saja.
“ Kenapa?” Funarth melihatku yang sedang menahan rasa sakit teramat sangat dengan ekspresi khawatir.
“Nggak. Aku gak kenapa-kenapa kok. Cuma keselek aja dikit sama nih pai,” berusaha terbiasa dengan keadaan seperti ini membuatku semakin merasakan nyeri pada organ-organ tubuhku. Untung saja saat itu aku tengah melahap pai cherry yang tadi pagi kuperoleh dari Erlan senpai.
Jantung bermasalah, tak ketinggalan paru-paru dan lambungku juga. Hal ini tak seorangpun tau kecuali aku dan Tuhan. Tak pernah kuceritakan bahkan pada orang yang terdekat sekalipun denganku.
Hembusan angin semilir pagi hari yang membasahiku dengan butiran embun sejuk membuatku tak segera beranjak dari balkon atas. Tak tau apa penyebabnya, aku merasa ingin menikmati sepuasnya keindahan alam sebelum semua itu tak lagi dapat kulakukan. Padahal rasanya belum siap aku menelantarkan semua anugrah yang ada padaku.
Bukannya peramal, penentu hidup ataukah aku menjadi takdirku sendiri, hanya saja aku merasa hampir tak bisa bertahan dalam kondisiku yang kian memburuk. Tiada yang menyadari semua itu karena aktingku terlalu hebat untuk menyembunyikan keadaanku.
Akankah aku bisa menikmati sepotong kue pai blueberry kesukaanku di samping Erlan senpai yang dengan setia menemani saat-saat hembusan terakhirku?
-to be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar